Pelajaran dari Bencana Tsunami

Gempa bumi tanggal 26 Desember 2004 di Asia Tenggara, yang terbesar dalam kurun waktu 40 tahun terakhir dan terbesar kelima sejak tahun 1900, tercatat 9 pada skala Richter. Gempa tersebut beserta gelombang tsunami yang terjadi setelahnya menyebabkan bencana yang menewaskan lebih dari 220.000 orang. Patahan seluas 1.000 kilometer persegi yang muncul akibat pergerakan sejumlah lempengan di bawah permukaan bumi dan energi raksasa yang ditimbulkan oleh bongkahan tanah raksasa yang berpindah tempat, berpadu dengan energi raksasa yang terjadi di samudra untuk membentuk gelombang tsunami. Gelombang tsunami itu menghantam negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Sri Lanka, India, Malaysia, Thailand, Bangladesh, Myanmar, Maladewa dan Seychelles, dan bahkan pesisir pantai Afrika seperti Somalia, yang terletak sejauh kurang lebih 5.000 kilometer.
Istilah “tsunami,” yang dalam bahasa Jepang berarti gelombang pelabuhan, menjadi bagian dari bahasa dunia pasca tsunami raksasa Meiji pada tanggal 15 Juni 1896 yang melanda Jepang dan menyebabkan 21.000 orang kehilangan nyawa.
Untuk memahami tsunami, sangatlah penting untuk dapat membedakannya dari pergerakan pasang-surut dan gelombang biasa yang diakibatkan oleh angin. Angin yang bertiup di atas permukaan laut menimbulkan arus yang terbatas pada lapisan bagian atas laut dengan memunculkan gelombang-gelombang yang relatif kecil. Misalnya; para penyelam dengan tabung udara dapat dengan mudah menyelam ke bawah dan mencapai lapisan air yang tenang. Gelombang laut mungkin dapat mencapai setinggi 30 meter atau lebih saat terjadi badai dahsyat, tapi hal ini tidak menyebabkan pergerakan air di kedalaman. Selain itu, kecepatan gelombang laut biasa yang diakibatkan angin tidaklah lebih dari 20 km/jam. Sebaliknya, gelombang tsunami dapat bergerak pada kecepatan 750-800 km/jam. Gelombang pasang surut bergerak di permukaan bumi dua kali dalam rentang waktu satu hari dan, seperti halnya tsunami, dapat menimbulkan arus yang mencapai kedalaman hingga dasar samudra. Namun, berbeda dengan gelombang pasang surut, penyebab gelombang tsunami bukanlah gaya tarik bumi dan bulan.
Tsunami merupakan gelombang laut berperiode panjang yang terbentuk akibat adanya energi yang merambat ke lautan akibat gempa bumi, letusan gunung berapi dan runtuhnya lapisan-lapisan kerak bumi yang diakibatkan bencana alam tersebut di samudra atau di dasar laut, peristiwa yang melibatkan pergerakan kerak bumi seperti pergeseran lempeng di dasar laut, atau dampak tumbukan meteor. Ketika lantai dasar samudra berpindah tempat dengan kecepatan tinggi, seluruh beban air laut di atasnya terkena dampaknya. Apa yang terjadi di lantai dasar samudra dapat disaksikan pengaruhnya di permukaan air laut, dan keseluruhan beban air laut tersebut, hingga kedalaman 5.000 – 6.000 meter, bergerak bersama dalam bentuk gelombang. Satu rangkaian bukit dan lembah gelombang itu dapat meliputi wilayah hingga seluas 10.000 kilometer persegi.
TSUNAMI TIDAK BERDAMPAK DI LAUTAN LEPAS
Di laut lepas tsunami bukanlah berupa tembok air sebagaimana yang dibayangkan kebanyakan orang, tetapi umumnya merupakan gelombang berketinggian kurang dari 1 meter dengan panjang gelombang sekitar 1.000 kilometer. Di sini dapat dipahami bahwa permukaan gelombang memiliki kemiringan sangat kecil (ketinggian 1 cm yang terbentang sejauh 1 km). Di wilayah samudra dalam dan lepas, gelombang seperti ini terjadi tanpa dapat dirasakan, meskipun bergerak pada kecepatan sebesar 500 hingga 800 km/jam. Hal ini dikarenakan pengaruhnya tersamarkan oleh gelombang permukaan laut biasa. Agar lebih memahami betapa tingginya kecepatan gelombang tsunami, dapat kami katakan bahwa gelombang tersebut mampu menyamai kecepatan pesawat jet Boeing 747. Tsunami yang terjadi di laut lepas tidak akan dirasakan sekalipun oleh kapal laut.
TSUNAMI MEMINDAHKAN 100.000 TON AIR KE DARATAN
Penelitian menunjukkan bahwa tsunami ternyata bukan terdiri dari gelombang tunggal, melainkan terdiri atas rangkaian gelombang dengan satu pusat di tengah, seperti sebuah batu yang dilemparkan ke dalam kolam renang. Jarak antara dua gelombang yang berurutan dapat mencapai 500-650 kilometer. Ini berarti tsunami dapat melintasi samudra dalam hitungan jam saja. Tsunami hanya melepaskan energinya ketika mendekati wilayah pantai. Energi yang terbagi merata pada segulungan air raksasa menjadi semakin memadat seiring dengan semakin mengerutnya gulungan air tersebut, dan meningkatnya tinggi gelombang permukaan secara cepat dapat diamati. Gelombang berketinggian kurang dari 60 cm di laut lepas kehilangan kecepatannya saat mendekati perairan dangkal, dan jarak antargelombangnya pun berkurang. Akan tetapi, gelombang yang saling bertumpang tindih memunculkan tsunami dengan membentuk dinding air. Gelombang raksasa ini, yang biasanya mencapai ketinggian 15 meter tapi jarang melebihi 30 meter, melepaskan kekuatan dahsyat saat menerjang pantai dengan kecepatan tinggi, sehingga menyebabkan kerusakan hebat dan menelan banyak korban jiwa.
Tsunami memindahkan lebih dari 100.000 ton air laut ke daratan untuk setiap meter garis pantai, dengan daya rusak yang sulit dibayangkan. (Gelombang tsunami terbesar yang pernah diketahui, yang melanda Jepang pada bulan Juli 1993, naik hingga 30 meter di atas permukaan air laut.) Tanda awal datangnya tsunami biasanya bukanlah berupa dinding air, akan tetapi surutnya air laut secara mendadak.
TSUNAMI-TSUNAMI BESAR DALAM SEJARAH
Gelombang-gelombang laut raksasa terbesar akibat gempa bumi yang tercatat dalam sejarah adalah sebagai berikut
Gelombang raksasa paling tua yang pernah diketahui akibat gempa di laut, yang diberi nama “tsunami” oleh orang Jepang dan “hungtao” oleh orang Cina, adalah yang terjadi di Laut Tengah sebelah timur pada tanggal 21 Juli 365 M dan menewaskan ribuan orang di kota Iskandariyah, Mesir.
Ibukota Portugal hancur akibat gempa dahsyat Lisbon pada tanggal 1 November 1775. Gelombang samudra Atlantik yang mencapai ketinggian 6 meter meluluhlantakkan pantai-pantai di Portugal, Spanyol dan Maroko.
27 Agustus 1883: Gunung berapi Krakatau di Indonesia meletus dan gelombang tsunami yang menyapu pantai-pantai Jawa dan Sumatra menewaskan 36.000 orang. Letusan gunung berapi tersebut sungguh dahsyat sehingga selama bermalam-malam langit bercahaya akibat debu lava berwarna merah.
15 Juni 1896: “Tsunami Sanriku” menghantam Jepang. Tsunami raksasa berketinggian 23 meter tersebut menyapu kerumunan orang yang berkumpul dalam perayaan agama dan menelan 26.000 korban jiwa.
17 Desember 1896: Tsunami merusak bagian pematang Santa Barbara di California, Amerika Serikat, dan menyebabkan banjir di jalan raya utama.
31 Januari 1906: Gempa di samudra Pasifik menghancurkan sebagian kota Tumaco di Kolombia, termasuk seluruh rumah di pantai yang terletak di antara Rioverde di Ekuador dan Micay di Kolombia; 1.500 orang meninggal dunia.
1 April 1946: Tsunami yang menghancurkan mercu suar Scotch Cap di kepulauan Aleut beserta lima orang penjaganya, bergerak menuju Hilo di Hawaii dan menewaskan 159 orang.
22 Mei 1960: Tsunami berketinggian 11 meter menewaskan 1.000 orang di Cili dan 61 orang di Hawaii. Gelombang raksasa melintas hingga ke pantai samudra Pasifik dan mengguncang Filipina dan pulau Okinawa di Jepang.
28 Maret 1964: Tsunami “Good Friday” di Alaska menghapuskan tiga desa dari peta dengan 107 warga tewas, dan 15 orang meninggal dunia di Oregon dan California.
16 Agustus 1976: Tsunami di Pasifik menewaskan 5.000 orang di Teluk Moro, Filipina.
17 Juli 1998: Gelombang laut akibat gempa yang terjadi di Papua New Guinea bagian utara menewaskan 2.313 orang, menghancurkan 7 desa dan mengakibatkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.
26 Desember 2004: Gempa berkekuatan 8,9 pada skala Richter dan gelombang laut raksasa yang melanda enam negara di Asia Tenggara menewaskan lebih dari 156.000 orang.
PENYEBAB TINGGINYA DAYA RUSAK TSUNAMI
Menurut informasi yang diberikan oleh Dr. Walter C. Dudley, profesor oseanografi dan salah satu pendiri Museum Tsunami Pasifik, tak menjadi soal seberapa besar kekuatan gempa bumi, pergerakan lantai dasar samudra merupakan syarat terjadinya tsunami. Dengan kata lain, semakin besar perpindahan lempeng kerak bumi di lantai dasar samudra, semakin besar jumlah air yang digerakkannya, dan hal ini akan menambah kedahsyatan tsunami. Hal lain yang meningkatkan daya rusak tsunami adalah struktur pantai yang diterjangnya: Selain faktor seperti bentuk pantai yang berupa teluk atau semenanjung, landai atau curam, bagian dari pantai yang selalu berada di dalam air mungkin saja memiliki struktur yang dapat menambah kedahsyatan gelombang pembunuh.
Dalam pernyataannya lain, yang memperjelas bahwa tindakan pencegahan yang dilakukan tidak dapat dianggap sebagai jalan keluar sempurna, Dudley mengatakan bahwa Amerika dan Jepang telah mendirikan perangkat pemantau paling mutakhir di Samudra Pasifik, tapi seluruh perangkat ini memiliki tingkat kesalahan lima puluh persen!
TANDA-TANDA ZAMAN AKHIR
Bencana alam, yang tidak dapat dicegah menggunakan sarana teknologi atau tindakan penanggulangan dini, menunjukkan betapa tak berdaya manusia sesungguhnya.
Dari abad ke-20, yang ditengarai sebagai “abad bencana alam”, hingga kini, telah terjadi sejumlah bencana alam besar seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, angin tornado, badai, angin topan, angin puyuh, dan banjir, disamping tsunami, dan semua ini telah menimpakan kerusakan parah dan merenggut nyawa jutaan manusia. Ketika seseorang memikirkan fenomena luar biasa ini, dapat dipahami bahwa hal ini memiliki kemiripan dengan fenomena alam yang dinyatakan sebagai pertanda masa awal dari Zaman Akhir.
Menurut apa yang dinyatakan dalam hadits, Zaman Akhir adalah suatu masa yang akan datang menjelang terjadinya hari kiamat, dan ketika nilai-nilai Al Qur’an tersebar luas ke masyarakat. Tahap pertama dari Zaman Akhir adalah di kala manusia menjauhkan diri dari nilai-nilai ajaran agama, ketika peperangan semakin meningkat, dan fenomena alam luar biasa terjadi.
Demikianlah, di dalam sejumlah hadits, kota-kota dan bangsa-bangsa yang dilenyapkan dari lembaran sejarah dikabarkan sebagai tanda-tanda Zaman Akhir. Dalam hadits-hadits yang mengupas masalah tersebut Nabi kita menyatakan:
“Saat (Hari Akhir) tidak akan terjadi hingga … gempa bumi menjadi sering terjadi.” (Bukhari)
“Peristiwa-peristiwa besar akan terjadi di masanya [Imam Mahdi].” (Ibnu Hajar Haytahami, Al-Qawl al-Mukhtasar fi’alamat al-Mahdi al-Muntazar, h. 27)
Ada dua peristiwa besar sebelum hari Kiamat … dan kemudian tahun-tahun gempa bumi. (Diriwayatkan oleh Ummu Salamah (r.a.))
“Banyak peristiwa yang begitu menyedihkan akan terjadi di masanya [Imam Mahdi].” (Imam Rabbani, Letters of Rabbani, 2/258)
Di tahap kedua Zaman Akhir, Allah akan membebaskan manusia dari kebobrokan akhlak dan peperangan melalui Imam Mahdi. Di masa ini, yang dikenal sebagai Zaman Keemasan, peperangan dan pertikaian akan berakhir, dunia akan dipenuhi oleh kemakmuran, keberlimpahan dan keadilan, dan nilai-nilai ajaran Islam akan melingkupi bumi dan diamalkan secara luas. Masa seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, dengan izin Allah, tetapi akan berlangsung sebelum hari kiamat. Tahap ini sekarang tengah menunggu saatnya yang ditentukan oleh Allah.
Segala sesuatu di bawah kendali Allah. Orang-orang beriman yang memahami kebenaran ini dan yang memiliki keimanan tulus kepada Allah, berserah diri kepada Tuhan kita dengan pemahaman bahwa mereka tengah mengikuti takdir mereka. Allah telah mengatur segala sesuatu dengan sempurna, hingga rinciannya yang terkecil, sejak penciptaan bumi hingga Hari Kiamat. Segala sesuatu dicatat dalam kitab “Lauh Mahfuz”. Segala sesuatu telah terjadi dalam satu waktu dalam pandangan Allah, Yang tidak terikat oleh ruang ataupun waktu, dan ruang serta waktu dari setiap peristiwa telah ditetapkan. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah ayat: “Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.” (Al Qur’an, surat Al An’aam, 6:67)

Iklan

Para Geologist Islam

Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Makmun (paruh pertama abad IX M), Al-Khawarizmi dan 99 orang asistennya telah membuat peta bumi sekaligus peta langit (peta bintang). Mereka berhasil mengukur lingkaran bumi dengan tingkat akurasi yang amat tinggi dengan dilandaskan pada pemahaman bahwa bumi itu bentuknya bulat. Kesimpulan tersebut diperoleh setelah eksperimen sederhana dilakukan di dataran Sinyar (dekat kota Palmyra). Dengan menggabungkan pengetahuan matematika sederhana (sinus, kosinus dan tangen) dengan sudut jatuh sinar matahari serta peredaran bumi dalam setahun, mereka menyimpulkan bahwa derajat zawal = 56 2/3 mil atau 959 yard lebih panjang dari nilai yang sebenarnya. Setelah diperoleh derajat zawal, mereka dapat menghitung panjang keliling bumi, yaitu 20.000 mil, dan jari-jari bumi 6.500 mil.
Pada saat yang sama, bangsa Eropa masih yakin bahwa bumi itu datar, hingga Columbus berhasil menginjakkan kakinya di benua Amerika, dan membuktikan bahwa bumi itu bulat.
Upaya para intelektual Muslim saat itu untuk memetakan bumi—beserta informasi mengenai keadaan alam, hasil bumi, dan barang tambangnya—telah dimulai pada abad ke-9 M. Al-Muqaddasi (Abu ‘Abdillah) yang hidup pada tahun 985 M melakukan pengembaraan panjang mendatangi berbagai negeri hingga 20 tahun lamanya. Tujuannya adalah untuk menyusun ensiklopedia sederhana mengenai ilmu bumi. Ia memberikan banyak informasi yang amat teliti tentang tempat-tempat yang dikunjunginya.
Sejak saat itu, mulailah berkembang upaya-upaya spesifik yang akan melahirkan cabang ilmu historio topographical maupun demografi. Di antara buku-buku ilmu bumi yang banyak tersebar saat itu ada yang memfokuskan tentang sejumlah peraturan pos pada masa para khalifah dan peraturan mengenai kharaj di masing-masing wilayah; ada pula yang menggambarkan kondisi udara (tingkat hujan, kelembaban, intensitas sinar matahari dsb), pertambangan/logam; dan sejenisnya.
Pada pertengahan abad ke-10 M, Al-Astakhri menerbitkan karyanya tentang ilmu bumi negeri-negeri Islam yang disertai dengan peta berwarna yang membedakan data potensi masing-masing negeri. Pada akhir abad ke-11 M, Al-Biruni mengekspos bukunya tentang ilmu bumi Rusia dan Eropa Utara. Ia adalah Abu Raihan Biruni yang lahir di negara bagian Khurasan. Ia belajar ilmu pasti, astronomi, kedokteran, matematika, sejarah, serta ilmu tentang bangsa India dan Yunani. Ia sering melakukan korespondensi dengan Ibn Sina.
Pertengahan abad ke-12 M, Al-Idrisi, seorang ahli ilmu bumi dan pelukis peta, telah membuat peta langit dan bola bumi yang berbentuk bulat. Kedua karyanya itu dibuat dari perak dan dihadiahkan kepada Raja Roger II dari Sisilia. Namun demikian, hasil karya Al-Idrisi yang amat terkenal adalah peta sungai Nil. Peta tersebut menjelaskan asal sumbernya (hulu sungai) yang kemudian dijadikan acuan bagi pengelana Eropa dalam menemukan hulu sungai Nil pada abad ke-19 M.
Tahun 1290 M, Quthbuddin as-Syirazi, ahli ilmu bumi, berhasil membuat peta Laut Mediterania, yang kemudian dihadiahkannya kepada Gubernur Persia saat itu. Pada era yang sama, Yaqut ar-Rumi (1179-1229) menyusun ensiklopedia ilmu bumi tebal yang terdiri dari 6 jilid. Ensiklopedia ini dikemas dengan judul, Mu‘jam al-Buldân.

Syiar Ilmu Bumi dalam Islam

Assalamualaikum.Wr.Wb.
Allah SWT berfirman di dalam kitabnya yang maha mulia : “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu,keduanya dahulu adalah satu kesatuan yang terpadu. Kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air kami jadikan segala sesuatu yang hidup,maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” ( Al Anbiya 3 )

Muhammad Kamil Abd As Shamad dalam bukunya  “Al I’jaz ‘Ilmi fil Qur’an” halaman 77-78 mengatakan bahwa: “Ilmu modern pada abad terakhir telah menemukan bahwa, bumi dan langit-langit merupakan satu kesatuan, yang pada akhirnya terbelah. Kemudian masing-masing dari unsur keduanya berasal dari awan-awan ( asap ), yang semakin lama semakin menebal dan membentuk suatu benda (tak ubahnya penciptaan manusia yang berasal hanya dari setetes air mani, kemudian menjadi benda yang keras dan bergerak).”

Kedua unsur ini sudah dibuktikan bahwa zat-zat yang ada di bumi dan matahari satu. Yaitu berupa gas yang terapung. Hal ini dilukiskan dan dibadaikan oleh Allah SWT dalam firmannya “Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih merupakan asap, lalu Allah berkata kepadanya dan kepada bumi, datanglah kamu keduanya menurut perintahku, dengan suka hati, atau terpaksa, keduanya menjawab, kami datang dengan suka hati.” ( Q.S Al Fushilat 11 ).

BENTUK BUMI :
Sesuai dengan firman Allah SWT dalam kitabnya yang mulia: “Dan bumi setelah itu dijadikannya terhampar (seperti bulat telur ).” (Q.S An Naazi’aat 30).

Kamus bahasa Arab memberikan arti kata “Dahaha” yaitu menjadikannya seperti “Ad Dahiyah, yakni Bulat telur”. Dan yang menguatkan lagi firman Allah bahwa bentuk bumi ini bulat adalah firmannya sebagai berikut: “Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari, dan memelihara kedua tempat terbenamnya.” (Q.S Ar Rahman 17 )

Andaikan saja, bentuk bumi ini terbentang luas dan terhampar merata, tentu tempat terbit dan terbenamnya matahari satu. Dan cahaya matahari pasti menyinari seluruh isi jagat alam raya ini sekaligus, berarti tidak ada malam, karena diterangi oleh matahari, tanpa ada dinding pembatasnya.

Salah satu contoh saja, cobalah kita pinjam dulu bola kaki dunia itu, atau bola apa saja, kemudian kita kasih senter,maka bila kita mensenternya (memberikan cahaya), pada bagian atas, maka bagian bawahnya gelap. Atau kita sinari bagian Barat,maka bagian Timurnya akan gelap, begitu juga sebaliknya. Karena bagian bawah, atau Timur terhalang mendapat sinaran tersebut. Ini pertanda bahwa bumi itu bulat, dan tidak datar begitu saja. Dan ini juga sesuai dengan firman Allah SWT “Dan dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” ( Q.S Al Anbiyaa,) “Dia Allah-lah yang menutupkan malam atas siang dan siang atas malam,dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang telah ditentukan”. “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malam mendahului siang.” ( Q.S Yasin 40 )

ISYARAT-ISYARAT ALQUR’AN TENTANG GEOLOGI
Zaglul Raghib Muhammad Al Najjar, (mukjizat Al Qur’an)  dalam keterangannya mengenai ilmu geologi ini menyatakan: “Dalam berbagai ayat, Al Qur’an banyak memberikan indikasi tentang jagad raya dengan segala bagian-bagiannya (langit, bumi, segala benda mati dan hidup yang ada, serta berbagai fenomena jagat raya lainnya yang muldimensional).”

Isyarat-isyarat itu menunjukkan bukti (istidlal) atas kekuasaan Allah yang tidak terbatas, ilmu dan hikmah yang maha sempurna dalam menciptakan jagat raya ini. Ini semua sebagai hujjah (argumentasi) terhadap orang-orang kafir, musyrik dan kaum skeptis, dan sekaligus mengukuhkan hakikat uluhiyah Allah, Rabb alam semesta. Jika kaum Muslimin memanfaatkan hal keilmuan dari Allah ini, niscaya mereka akan menjadi pelopor dalam setiap penemuan ilmiyah. Sekurang-kurangnya terdapat 49 ayat kauniyah di dalam Al Qur’an yang membicarakan bumi.

Antara lain yang membicarakan tentang lapis luar bumi di mana kita hidup di atasnya. Ayat-ayat yang mengandung sejumlah fakta ilmiah geologi dapat diklasifikasikan dalam kompilasi-kompilasi berikut:
Ayat yang menyuruh manusia supaya berjalan di muka bumi dan meneliti cara awal penciptaan, yang merupakan suatu metodologi ilmiah dalam kajian geologi.
Ayat-ayat yang menunjukkan gerak dan asal usul bumi. Antara lain penyifatan bola bumi dan peredarannya. Ayat-ayat yang menegaskan tentang posisi planet-planet hakikat ekspansi jagat raya permulaan alam yang dimulai dengan satu partikel (satu padu), kemudian partikel pertama yang meledak, (tahap pemisahan ), permulaan langit dan tahap penciptaannya, yang pertama dalam kabut tipis (tahap nebula) tersebarnya benda antara langit dan bumi (benda antara planet-planet), dan keselarasan seluruh yang ada di langit dan di bumi.
Ayat yang menetapkan bahwa setiap besi yang ada di planet bumi ini, telah diturunkan dari langit.
Ayat yang menetapkan bahwa bumi mempunyai tumbuh-tumbuhan, dan ini merupakan suatu sifat fundamental planet bumi yang kita huni ini.
Ayat-ayat Al Qur’an yang berbicara tentang berbagai fenomena laut yang sangat urgen. Seperti gelapnya lautan dan samudra (peranan gelombang yang bersifat intern dan ekstern dalam pembentukannya). Pertemuan air laut air tawar dengan air asin.
Ayat-ayat yang berbicara tentang gunung. Antara lain ada yang menyifatinya sebagai “Pasak, tiang bumi”.
Ayat yang mengisyaratkan tentang proses pertumbuhan kulit bumi yang terdiri dari air dan udara. Itu terjadi dengan dikeluarkannya bagian-bagian kedua aspek tersebut dari perut bumi atau ayat-ayat yang menyifati tabi’at retroactive protective, bagi kulit bumi yang bersifat gas.
Ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang lembutnya kulit bumi yang membatu, rata gelombang permukaannya, terpecah lembah dan anak sungainya serta semakin berkurangnya ujung-ujung bumi.
Ayat yang menjelaskan tentang mengendapnya air hujan di dalam bumi, dan mengisyaratkan adanya semacam selokan ( kolam ) air di sekitar bumi dan bebatuannya.
Dan lain-lainnya.

Fakta ilmiah ini, tak pernah dikenal oleh manusia sebelum abad ini, justru banyak fakta-fakta ilmiah itu yang belum dicapai oleh manusia kecuali pada beberapa dasawarsa terakhir ini, setelah adanya upaya-upaya brilian dan analisis mendalam tentang sejumlah besar observasi dan eksperimen-eksperimen ilmiah dalam berbagai aspek yang ditangkap dari fenomena jagat raya.

Sesungguhnya keterdahuluan Al Qur’an dalam mengisyaratkan fakta-fakta ilmiah tersebut dengan ungkapan yang sangat teliti, baik dari segi llmiahnya, ataupun bahasanya, serta cakupan dan totalitasnya. Inilah ia mukjizat ilmiah Al Qur’anulkarim.

Al Qur’an tetap terpelihara kata perkata, kalimat perkalimat, karena Allah akan memeliharanya “Inna nahnu nazzalnaa Ad Dzikra,wainnaa lahuu lahaafidzuun” (Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al Qur’an itu, maka kami juga yang akan memeliharanya.) “dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka ia tetap pada tempatnya,padahal ia berjalan sebagai jalannya awan, begitulah perbuatan Allah yang membuat kokoh tiap-tiap sesuatu.” (Q.S Al Naml : 88).

Guna membahas pentingnya pemikiran ilmu geologi, atau persepsi dari Al Qur’an dan Hadist, adalah penting untuk memberikan informasi latar belakang yang menggambarkan di mana geologi sekarang dan bagaimana sampai ke kondisi sekarang.

Ilmu geologi sebagai ilmu pengetahuan dimulai kurang dari 200 tahun yang lalu. Meskipun adanya berbagai persepsi geologis yang bisa ditelusuri kembali ke Aristoteles lebih dari 2000 tahun yang lalu.

Pengumpulan dan Analisis dari data Geologis. Dalam dua abad setelah penelitian para pakar geologis dapat ditemukan bahwa dari hasil tanaman, kerang, tulang yang tetap ditemukan dalam batuan di akui sebagai catatan masa lalu.

(Salah satu contoh kecil,ilmu di bidang ini akan dapat menduga berapa umur suatu pohon, dilihat dari daun dan batang, atau kayunya, kapan terjadi musim panas,dan kapan terjadi musim dingin, hanya dilihat dari serat-serat pohon tersebut, ini saya dengar sendiri dari paman saya yang kebetulan bergerak di bidang kehutanan dan pertanian ini ).

Cobalah kita lihat serat-serat dari suatu pohon. Ambil pohon yang umurnya lama, atau pendek, dan ukurannya tebal, atau tipis, akan terlihat jelas oleh kita serat-serat kayu tersebut.

Menjelang tahun 1800 diakui lebih lanjut bahwa catatan kehidupan yang ditemukan dalam batuan berbeda dengan sekarang yang ditemukan, dan semakin jauh dalam waktu (yakni lapisan bawah sekali dalam urutan lapisan batuan), semakin beda catatan fosil, yang berbeda di temukan dalam batuan.

Penelitian untuk menentukan urutan  ini dicapai dengan mengintegrasikan informasi dari urutan parsial batuan dari seluruh dunia. Penelitian ini banyak membuat sibuk para ilmuwan di abad ke-19 ,dan secara ilmiah sama menariknya, dengan program ruang angkasa di zaman sekarang.

Kemajuan teknologi peralatan canggih yang diperlukan untuk memperoleh umur batuan,terutama sangat berkembang sejak tahun 1940-an. Apa yang dikatakan hadist mengenai semua ini? beberapa ayat dari berbagai bagian Al Qur’an dan Hadist mempunyai implikasi yang menarik. Allah berfirman : “katakanlah wahai Muhammad berjalanlah di atas bumi dan lihatlah bagaimana Allah memulai penciptaannya.”

Pernyataan ini memerintahkan kita untuk melakukan hal-hal berikut:
Mengadakan perjalanan di muka bumi.
Melakukan observasi ( lihat-lihat ), selama perjalanan itu.
Menuliskan pengamatan ini,menganalisis dan memahaminya,serta melihat bagaimana mulai penciptaan.

Informasi dari Al Qur’an menunjukkan rincian baik mengenai struktur bumi maupun mengenai gerakan lempeng kontinen. Dalam satu ayat, Al Qur’an menyatakan “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap” ( Q.S 2: 22 )

Hal-hal berikut yang ditunjukkan oleh ayat ini:
lapisan atas bumi,atau kerak bumi,sama dengan suatu hamparan pelindung.
Lapisan atas bumi adalah relatif tipis terhadap bagian dalam, dan sekarang diketahui bahwa ketebalan relatif sama dengan kulit apel dibandingkan dengan keseluruhan apel.
Sama seperti hamparan yang melindungi kekerasan dan bahaya di bawahnya, demikian pula kerak bumi yang melindungi kehidupan dari panas di dalam bumi.

Ayat lain dalam Al Qur’an menyatakan : “dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi, supaya bumi ini tidak goncang bersama kamu, Dan dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk” ( Q.S 16 : 15 )

Ayat-ayat ini menunjukkan hal-hal berikut :
Benua di bumi terhampar dan diciptakan di zaman purba, sama seperti dihamparkan, atau ditarik.
Terdapat gerakan terus-menerus benua-benua.
Pembentukan gunung dikaitkan dengan gerakan ini.
Gunung distabilkan dengan turun ke lapisan astenosfer.
Bahan plastis ( lentur ) terdapat dibawah kerak bumi,karena ia menjadi tidak stabil, tanpa efek menurun (sinking effect).

jadi ayat-ayat ini memberikan indikasi yang jelas mengenai struktur bumi dan gerakan lempeng tektonik. Kerak bumi dan  karakteristik strukturalnya tidak dipelajari secara rinci sampai abad ke 19. Ahli-ahli geologi tidak mempunyai teori yang komfrehensip untuk menjelaskan proses ini, mengaitkannya dengan gerakan kontinen sampai paro terakhir abad kedua puluh.

Sekarang kita terangsang untuk merenungkan sebuah hadist dalam shahih Muslim yang menyatakan, sebagai salah satu datangnya Hari perhitungan sebagai berikut: “Hari perhitungan tidak akan datang sebelum daerah Arab kembali menjadi subur, hijau dengan sungai-sungai”.

Hadist ini mengacu pada iklim masa lalu, dan masa yang akan datang,dari bukti geologis bahwa daerah ini pernah hijau dan akan menjadi hijau lagi dalam waktu kurang dari satu abad. Mengenai hal ini, Mesir sudah jelas dulunya adalah tanah pertanian, terbukti dengan adanya kisah nabi Yusuf yang menjadi Menteri keuangan di dalam mengatur pertanian, kala orang-orang Palestina datang meminta bahan-bahan primer untuk dimakan.

Begitupun selama bertahun- tahun masa panen,dan masa paceklik (tempat penyimpanan itu masih ada sampai sekarang, adanya di Luxor, sementara Kincir nabi Yusuf, mungkin kincir pertama di dunia kali, hanya sayangnya negeri Kincir justru terkenal dari Negara Belanda (?). Kincir nabi Yusuf masih ada, dan memiliki bunyi khusus.

Dan bila dihubungkan dengan masa-masa saat ini, Mesir bukanlah seluruhnya tanah Padang pasir yang tandus lagi,tapi sudah banyak kehijauan di sebagian daerah, begitupun sungai-sungai Nil, yang di buat bendungan-bendungan baru,serta aliran-aliran baru di daerah perpasiran, sehingga jadilah Padang pasir tersebut menjadi tanah pertanian. Wallaua’lam masa yad.

Tak kalah juga,kalau tidak salah,dua tahun yang lampau di jazirah Arab, sudah ada gundukan es, salju. Ini pertanda, suatu saat kelak, Hadist Rasulullah benar-benar terbukti, bahwa jazirah Arab akan kembali menjadi subur kembali.

Lantas kenapa dulunya tanah Arab,subur,menjadi kering begitu? Ini pembahasan di bidang lain, yang menyangkut zaman Es. Di sana disebutkan bagaimana rotasi tersebut.

Wassalam