Kontroversi “Chryse Chersonesos” dan Kontribusi Geologi

Oleh: Awang HS

Perdebatan kepemilikan akan sesuatu antara Malaysia dan Indonesia telah terjadi, dari perdebatan kepemilikan akan pulau di perbatasan kedua negara, reog, batik, bahkan rendang. Dalam hal ini, Malaysia selalu mengklaim bahwa itu miliknya, dan Indonesia mempertahankan apa yang menjadi miliknya.

Menggali buku-buku lama, rupanya perdebatan semacam itu telah terjadi juga pada hampir 50 tahun yang lalu; terjadi pada literatur-literatur sejarah. Ada sebuah kontroversi di dalam sejarah yang menyangkut apa yang dimaksud oleh Caludius Ptolemaeus, ahli astronomi dan geografi Mesir awal abad Masehi (sekitar 87-150 AD), sebagai “Chryse Chersonesos” yang suka diterjemahkan di kalangan sejarah Asia Tenggara sebagai Semenanjung Emas.

Malaysia, melalui ahli sejarahnya yang terkenal Paul Wheatley menulis dalam sebuah buku berjudul The Golden Khersonese (University of Kuala Lumpur, 1961) bahwa chryse chersonesos yang dimaksud Ptolomeus itu tidak lain daripada Semenanjung Malaka.

Publikasi Wheatley segera mendapatkan serangan dari seorang ahli sejarah kelahiran Belanda yang lama berkarya di Indonesia : W.J. van der Meulen. Rohaniwan Katolik pendiri Jurusan Sejarah IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta dan menjadi ketua jurusannya selama 20 tahun (1957-1977) ini menulis serangkaian artikel di dalam majalah Basis yang pada pokoknya menyerang argumen-argumen Wheatley. Van der Meulen mengajukan argumen-argumen baru yang mendukung pendapatnya bahwa yang dimaksud dengan chryse chersonesos tidak lain daripada Sumatera.

Apa hubungan kontroversi sejarah ini dengan geologi ? Barang tambang berupa emas dan perak yang ada di Pegunungan Barisan serta penutupan dan pembukaan Selat Malaka adalah beberapa argumen yang dikemukakan van der Meulen dalam menyerang Wheatley. Maka, keahlian geologi sebenarnya bisa terkait dalam kontroversi dan perdebatan ini.

Prof. Wheatley menulis di dalam bukunya halaman 144 (diterjemahkan), “para sarjana pada umumnya, meskipun dengan ragu-ragu juga, mengidentifikasikan “Chryse Chersonesos” dengan Semenanjung Malaka. Argumen-argumen yang dikemukakan sebagai dasar pendapat ini sepenglihatan kami nampaknya sama sekali tak tertumbangkan.” Tetapi, van der Meulen menulis artikel berjudul “Semenanjung Emas”, mempertanyakan “…manakah kiranya argumen-argumen yang mahakuat ini ?

Chersonesos memang berarti semenanjung. Tetapi yang selalu menimbulkan keheranan adalah mengapa di dalam sumber-sumber India berkali-kali diketengahkan adanya Tanah Emas atau Pulau Emas (Suvarnabhumi, Suvarnadvipa), akan tetapi tidak pernah dibicarakan adanya sebuah semenanjung. Harus diperhatikan bahwa Ptolomeus menulis buku geografi Asia Tenggara di awal abad Masehi itu tidak berdasarkan atas perjalanannya sendiri, tetapi atas dasar cerita orang yang sebagian besar berasal dari para pedagang India.

Van der Meulen menulis bahwa bentuk Chryse Chersonesos itu tidak memanjang, melainkan hampir persegi. Di dalam gambar Wheatley, paling tidak dua pertiganya terletak di laut sebelah barat Malaka. Dan, yang menarik, mengapa Selat Malaka tidak disebut-sebut ? Ada dua kemungkinan : Selat Malaka belum ada saat awal abad Masehi itu, atau Selat Malaka sudah ada hanya saat itu bukan menjadi alur pelayaran. Di sini para ahli geologi Kuarter bisa meneliti penutupan dan pembukaan selat yang pada zaman modern ini menjadi alur utama pelayaran di Asia Tenggara.

Tahun 1911, seorang ahli sejarah bernama Wilhelm Volz menulis artikel berjudul, “Sudost Asien bei Ptolomaeus” dalam jurnal Geographische Zeitschrift volume XVII” halaman 31, “melihat bentuknya, maka Chryse Chersonesos yang digambarkan Ptolomeus ini tidak dapat dinyatakan lain kecuali menggambarkan Malaka-Sumatera menjadi satu.” Jadi menurut Volz, kapal-kapal yang datang dari India berlayar ke arah selatan melalui pantai barat Semenanjung Malaka sampai ke suatu titik tertentu dan dari tempat itu menyeberang ke pantai utara Sumatera, melanjutkan pelayarannya menyusur pantai barat Sumatera dan kemudian memasuki Kepulauan Indonesia dengan melalui Selat Sunda. Pendapat ini dengan jelas menyatakan bahwa saat itu Selat Malaka masih tertutup untuk pelayaran (mungkin masih terlalu dangkal ? – ahli geologi Kuarter bisa menelitinya lebih jauh).

Van der Meulen menantang argumen Wheatley, kalau Semenanjung Malaka adalah Semenanjung Emas (Chryse Chersonesos), adakah emas ditemukan di Malaka ? Wheatley menulis, meskipun sedikit, emas ada di Semenanjung Malaka, yaitu di jalur pegunungan antara Kelantan dan Malaka. Van der Meulen menulis, bahwa Pegunungan Barisan di pantai barat Sumatera lebih banyak mengandung emas daripada Semenanjung Malaka. VOC telah sejak awal mengeksplorasi dan mengeksploitasi emas di pegunungan ini, antara lain menghasilkan area emas terkenal Rejang-Lebong (pekerjaan emas pada zaman VOC di Sumatera dilaporkan dalam Elias Hesse, 1931 : Goldbergwerkte in Sumatera 1680-1685).

Wheatley menulis bahwa para penggambar peta dari abad ke-15 dan ke-16 pada umumnya mempersamakan Chryse Chersonesos dengan Malaka. Tetapi Wheatley juga menulis bahwa ada penggambar peta lain yang penting seperti Ortelius dan Manoel de Eredia yang berpendapat bahwa Sumatera adalah Chryse Chersonesos-nya Ptolemaeus. Kedua ahli geografi ini juga berpendapat bahwa dahulu kala seharusnya ada sederet tanah yang merupakan jembatan penghubung antara Tanjung Rachado (di sekitar Negeri Sembilan Semenanjung Malaka) dan Pulau Rupat di Riau. Meskipun ditulisnya, Wheatley tak mempercayai analisis Ortelius dan de Eredia ini. Padahal, hanya de Eredia satu-satunya dari para penggambar peta itu yang pernah tinggal di Asia Tenggara selama bertahun-tahun.

Orang-orang Portugis juga menerapkan nama Ophir, yaitu nama tanah emas yang menyumbangkan emas dan perak kepada Raja Salomo, baik pada Gunung Talak Mau di Sumatera, maupun pada Gunung Ledang di dekat Johor di Malaka. Jadi, pada pokoknya tidak banyak kita jumpai tradisi yang secara tegas hanya menunjuk Malaka sebagai Chryse Chersonesos.

Van der Meulen sendiri tidak percaya kepada teori jembatan darat antara Pulau Rupat dan Negeri Sembilan, para ahli geologi Kuarter bisa menganalisisnya. Tetapi van der Meulen percaya, bahwa bagian selatan Selat Malaka saat itu berupa rawa-rawa yang bersimpang siur dengan alur-alur dangkal. Bagian ini hanya bisa dilalui oleh para penduduk setempat yang tahu mana bagian yang dangkal mana yang dalam, mana gosong-gosong pasir yang selalu berubah kedudukannya; bukan oleh para pelayar dari negeri lain seperti para pedagang India.

Dalam hubungan ini, baik kiranya dikemukakan, bahwa pelaut-pelaut Arab kuno ternyata tidak mengenal sama sekali pedalaman Selat Malaka, kecuali muaranya di sebelah utara. Kenyataan ini menyebabkan banyak ahli menarik kesimpulan bahwa pelaut-pelaut itu hanya menggunakan jalan mengitari Sumatera. Para pelaut Arab baru bisa mengenal alur-alur di Selat Malaka pada abad ke-15 ketika mereka menerbitkan peta laut wilayah ini. Saat itu seluruh Selat Malaka bisa dilayari meskipun harus dengan sangat hati-hati.

Satu hal yang perlu diwaspadai pada bentuk Chryse Chersonesos, Ptolemaeus sebenarnya sama sekali tidak menggambarkan garis-garis pantai, melainkan ia begitu saja menghubungkan dengan garis lurus titik yang satu di dalam katalognya dengan titik berikutnya, tanpa menghiraukan apakah titik-titik itu terletak di pantai yang sama atau yang saling berhadapan, terletak di seberang teluk, selat, atau lautan. Garis-garis ini hanya menggambarkan jalan perdagangan sejauh yang dikenalnya; jadi dapat melintang pada pantai, dapat pula lebih kurang sejajar, atau bahkan memotong suatu kawasan.

Van der Meulen juga mengemukakan argumen bahwa dari segi angin, pantai barat Sumatera lebih mudah dilayari daripada pantai barat Semenanjung Malaka. Angin musim yang paling baik untuk berlayar dari India ke Asia Tenggara bertiup antara Oktober dan Maret (saat musim hujan di Indonesia Barat). Saat itu angin dari barat akan membawa kapal-kapal yang bertolak dari India Selatan atau Srilangka menuju Sumatera. Dengan berlayar sepanjang pantai barat Sumatera, maka para pelaut itu akan selalu mendapatkan tiupan angin penuh. Bagi kapal-kapal yang harus singgah di Teluk Martaban, selatan Myanmar, dan di daerah sebelah utara semenanjung, pilihannya lebih sukar. Selat Malaka memang lebih pendek, akan tetapi arah angin di situ pada umumnya melintang sehingga kemajuan berlayar sering sukar sekali.

Yang paling menarik dari argumen van der Meulen adalah kenyataan bahwa tidak terdapatnya sama sekali penemuan-penemuan arkeologi yang lebih tua daripada abad ke-8 di sebelah selatan Tanah Genting Kra – suatu daratan sempit di antara dua laut di sebelah utara Semenanjung Malaka. Henig (1930 : Molukken Reise) menulis (diterjemahkan) : “Tidak dapat disangsikan bahwa tempat-tempat penemuan arkeologi seperti Oceo dan P’ong Tuk di Kamboja menghasilkan artefak-artefak yang berasal dari dunia Romawi. Sedangkan, Semenanjung Malaka sangat menyolok karena tak satu pun artefak Romawi ditemukan di situ. Pada umumnya, kita dapat menghubungkan Delta Mekong, Kamboja dengan tempat-tempat penemuan budaya Romawi di Arikamedu (pantai timur India), tetapi tidak ada hubungan itu dengan Chaya, Takuapa atau Kedah di Malaya, maka tak ada bukti perdagangan dari Arikamedu dengan Semenanjung Malaya.”

Ke manakah artefak Arikamedu itu menyambung kalau bukan ke Malaka ? Rupanya ke pantai barat Sumatera. Alistair Lamb (1961 : Miscellaneous papers on Early Hindu and Buddhist Settlement in Northern Malaya and Southern Thailand, Federation Museum Journal VI) menulis bahwa di Sumatera Selatan dan daerah Bukit Barisan ditemukan manik-manik Romawi ribuan jumlahnya. Manik-manik ini ditemukan di kuburan-kuburan otentik zaman Perunggu. Yang juga merupakan sebuah bukti lagi tentang jalan dagang zaman kuno itu ialah adanya bejana-bejana Dinasti Han (200 BC-200 AD) yang ditemukan di daerah ini (van der Hoop, 1938 : De Prehistorie, dalam F.W. Stapel, Geschiedenis van Nederlandsch Indie).

Saya tutup tulisan ini dengan membandingkan secara geologi “siapa” yang kiranya lebih berhak menyandang gelar Semenanjung Emas itu, Malaysia atau Sumatera ? Dalam hal ini baik mengemukakan peta jalur orogen dan mineralisasi dari J. Westerveld (1952 : Phases of mountain building and mineral provinces in the East Indies). Westerveld (1952) menunjukkan bahwa Malaya hanya dilalui Jalur Orogen Malaya (Late Jurassic) yang membawa mineralisasi kasiterit, emas, dan bauksit. Sedangkan Sumatera, dilalui oleh dua jalur orogen : (1) Orogen Sumatera (Kapur) yang membawa mineralisasi besi, emas-perak-logam dasar, dan (2) Orogen Sunda (Miosen Tengah) yang membawa mineralisasi emas-perak epitermal. Perhatikan, bahwa Sumatera lebih kaya akan emas dibandingkan Malaya sebab lebih banyak jalur mineralisasinya; maka berdasarkan hal ini bahwa “Chryse Chersonesos” adalah Sumatera seperti ditulis van der Meulen, bukan Malaya/Malaysia/Semenanjung Malaka seperti ditulis
Paul Wheatley. Pulau Emas adalah Sumatera, sedangkan Malaysia adalah semenanjung timah.

“Bendera Chryse Chersonesos” tidak seharusnya dikibarkan di atas atap Semenanjung Malaka seperti keinginan Prof. Wheatley; ia, berdasarkan banyak argumen, mesti dikibarkan di atas Pulau Sumatera. Geologi akan memperkuat analisis ahli sejarah kelahiran Belanda yang betah tinggal di Yogyakarta itu – van der Meulen.

Iklan

Pola Magnetik Dasar Laut dan Rekonstruksi Pangea

Oleh: Minarwan

Di awal bulan Maret (tahun lalu) telah diceritakan bahwa konsep yang dikemukakan oleh Alfred Lothar Wegener (1880-1930), tentang daratan mahaluas bernama Pangaea yang ada pada akhir Era Paleozoic, akhirnya bisa diterima oleh komunitas geosains dan berkembang menjadi teori Tektonik Lempeng di tahun 1970-an (buka di sini). Ide Wegener diperdebatkan kembali sejak tahun 1950an seiring dengan berbagai penemuan yang dilakukan oleh para oceanographer and seismologist, terutama berupa mid-oceanic ridge alias pematang tengah samudera dan variasi magnetik dasar laut.

Keberadaan variasi magnetik dasar laut sebenarnya tidak dianggap aneh pada waktu itu karena telah disadari bahwa basalt (yang juga diketahui menyusun dasar laut) mengandung mineral magnetite yang dapat mengacaukan hasil pembacaan kompas saat pengukuran pada singkapan. Fenomena magnetik dasar laut membuat para geophysicist melakukan penelitian lebih detil dan hasilnya ternyata memperlihatkan bahwa variasi magnetik itu berpola (Gambar 1).

gambar-1

Gambar 1. Pola variasi magnetik dasar laut Mid-Atlantic Ridge di selatan Islandia (diambil dari http://www.newgeology.us/presentation25.html)

Polaritas magnetik dasar laut ternyata tidak seragam, satu setrip memiliki polaritas magnetik normal (arah utara mineral magnetite di batuan searah dengan arah utara bumi sekarang) sedangkan setrip yang bersebelahan berpolaritas terbalik (arah utara mineral magnetite di batuan menunjuk ke selatan). Secara sederhana dan ideal, pola itu bisa dianalogikan dengan 2 zebra cross identik yang tersusun berdampingan. Belang-belang zebra ini kira-kira memanjang searah dengan pematang tengah samudera alias mid-oceanic ridge dan terdapat di kedua sisi pematang. Setrip yang terdekat dengan lokasi pematang tengah samudera selalu memiliki polaritas magnetik normal pada saat ini. Animasi pergantian pola magnetik dasar laut dapat dilihat lebih jauh di sini.

Hasil analisis palaeontologi dan penarikan umur radioaktif inti bor yang diambil pada titik-titik tertentu melintasi Samudera Atlantik antara Amerika Selatan dan Afrika Barat pada tahun 1968 mempertegas teori pemekaran dasar laut alias seafloor spreading, serta konsisten dengan bukti anomali polaritas magnetik. Melalui studi palaeomagnetic ini pula rekonstruksi lempeng tektonik bisa dilakukan, yaitu dengan menyatukan strip-strip anomali magnetik dan menutup kembali samudera-samudera yang ada pada saat ini sehingga muncullah rekonstruksi kontinen-kontinen di masa lampau, termasuk Pangaea.

Rekonstruksi Pangaea

Rekonstruksi Pangaea dilakukan dengan berbagai cara oleh kelompok ahli yang berbeda. Ahli paleontologi dan geologi struktur menggunakan data-data geologi, sedangkan ahli geofisika mengandalkan data paleomagnetik. Hasilnya adalah beberapa model yang berbeda (inilah kisah klasik tentang ahli geosains, dengan menggunakan data yang samapun dapat menghasilkan interpretasi berbeda, apalagi jika datanya berbeda).

Penyebab perbedaan, selain karena berangkat dari jenis data yang berbeda, adalah karena rekonstruksi dengan menggunakan data paleomagnetik sendiri ternyata tidak betul-betul akurat. Medan magnet bumi yang dulu diyakini hanya sederhana dan cuma bersifat dipole (2 kutub sepanjang masa), ternyata malah bisa octupole (8 kutub). Kehadiran medan magnet octupole diperkirakan terjadi pada 20% hasil pengukuran paleomagnetik bumi, demikian menurut Van der Voo dan Torsvik (2001).

Apa pengaruh medan magnet dipole dan octupole itu? Begini. Secara sederhana, jika medan magnet hanya dipole sepanjang masa, maka rekonstruksi lokasi geografi kontinen-kontinen bisa berada pada paleolatitude yang “salah” dan bahkan menyebabkan 2 kontinen tumpang tindih sebagian. Contohnya ada dalam kasus rekonstruksi Pangaea pada jaman Permian, khususnya superkontinen Laurasia dan Gondwana.

Jika ada medan magnet octupole pada kala-kala tertentu, maka hasil pengukuran paleomagnetik untuk kala tersebut bisa digunakan untuk merekonstruksi paleolatitude dengan “lebih baik”, dalam arti misalnya tidak perlu memaksakan kutub magnet yang sama untuk merekonstruksi hasil pengukuran paleomagnetik di benua Australia dengan hasil pengukuran di Eropa.

Beberapa rekonstruksi Pangaea yang sering dipublikasikan antara lain Pangaea A, Pangaea A2 dan Pangaea B. Ada pula Pangaea C dan Pangaea D, namun tampaknya tidak cukup banyak saintis yang ikhlas menghabiskan waktu menelaah 2 rekonstruksi Pangaea yang disebutkan terakhir itu. Pangaea C dan D tidak cukup terkenal. Di bawah ini ada 3 gambar rekonstruksi Pangaea pada jaman Permian (akhir Paleozoik). Gambar a dan b dibuat tanpa memperhatikan paleolatitude, yaitu hanya sekedar mencocokkan batas benua yang satu dengan benua lain, sedangkan gambar c dengan mempertimbangkan paleolatitude.

gambar-2

Gambar 2. Rekonstruksi Pangaea pada akhir Permian (diambil dari http://magician.ucsd.edu/Essentials/WebBookse104.html#x122-19900213)

Pangaea A

Bullard et al. (1965) adalah yang pertama kali mencoba menutup kembali Samudera Atlantik dan mencocokkan garis pantai Amerika Selatan dan Utara dengan garis pantai Eropa dan Afrika Barat. Rekonstruksi versi Bullard et al. (1965) kemudian disempurnakan oleh Smith and Hallam (1970), dengan membuat Afrika berdempetan dengan Amerika Selatan dan Utara sedangkan Eropa berada sedikit di utara Afrika. Rekonstruksi ini dinamakan Pangaea A alias A1 (Gambar 2a). Di gambar ini dapat terlihat bahwa Teluk Meksiko yang tidak sepenuhnya tertutup.

Pangaea A2

Dengan menggunakan data paleomagnetik dari Gondwana, Van der Voo and French (1974) merubah Pangaea versi A menjadi versi A2 (Gambar 2b). Perbedaan pertama dengan Pangaea A adalah Teluk Meksiko yang sekarang sudah tertutup tapi masih menyisakan Semenanjung Florida dan Meksiko yang ditindih oleh Kolombia.

Pangaea B

Karena yakin akan rekonstruksi para geologists yang tidak cukup scientific dan tidak berdasarkan data yang akurat, Irving (1977) dan Morel & Irving (1981) kemudian mengajukan sebuah rekonstruksi Pangaea yang sangat berbeda dengan Pangaea versi A1 dan A2 (Gambar 2c). Perbedaannya adalah: pertama, Pangaea B telah direkonstruksi dengan mempertimbangkan interpretasi paleolatitude dan kedua yang lebih nyata lagi adalah posisi dan hubungan batas-batas kontinen yang jauh berbeda dengan rekonstruksi sebelumnya.

Dalam Pangaea B, Gondwana digeser lebih ke timur (relatif) terhadap Laurasia (Amerika Utara dan Eropa). Dalam Gambar 2c dapat terlihat posisi Teluk Meksiko yang terbuka di sebelah barat Kolombia/Ekuador/Peru dan Eropa yang berada di samping Mauritania. Guna mengakomodasi posisi Amerika Selatan dan Afrika yang lebih ke arah timur itu, para pendukung Pangaea B kemudian mengajukan bahwa menjelang Permian, Gondwana mulai bergerak ke arah barat relatif terhadap Laurasia melalui mekanisme berupa sesar geser dextral sepanjang 3500 km. Ide ini tentu saja ditentang oleh para ahli geologi yang tidak menemukan bukti keberadaan sesar geser dextral yang super panjang tersebut.

Sejak tahun 2001, ketika ide bahwa medan magnet bumi tidak hanya dipole melainkan juga octupole seperti yang dilontarkan oleh Van der Voo dan Torsvik, rekonstruksi Pangaea kemudian mulai kembali ke tipe A. Nah, untuk membaca lebih jauh mengenai dipole dan octupole ini serta bagaimana pengaruhnya pada rekonstruksi Pangaea, silahkan unduh paper mereka di link ini.

Sampai di sini dulu artikel Pangaea kali ini, lain kali disambung lagi. Lebih kurang hanya demikian apa adanya, kalau ada yang berkenan mengoreksi/menambahkan/mengurangi sangat dipersilahkan.

Kerajaan Demak dan Geologi Selat Muria

Oleh Pak Awang

Sebuah  buku baru, “Ensiklopedi Kelirumologi” (Jaya Suprana, 2009 – Elex Media Komputindo-Kompas Gramedia), memuat sebuah entri berjudul “Demak” di halaman 98. Di dalam entri itu diceritakan bahwa tentang lokasi bekas Keraton Kerajaan Demak belumlah ada kesepakatan di antara para ahli. Sekelompok ahli mengatakan bahwa letak lokasi keraton tersebut paling mungkin ada di kawasan selatan alun-alun kota Demak sekarang dan menghadap ke utara. Di kawasan selatan Demak ini terdapat suatu tempat bernama Sitinggil/Siti Hinggil–sebuah nama yang biasanya berasosiasi dengan keraton. Namun kelompok ahli yang lain menentang pendapat tersebut sebab pada abad XV, yaitu saat Kerajaan Demak ada, kawasan Demak masih berupa rawa-rawa liar. Sangat tidak mungkin kalau Raden Patah mendirikan kerajaannya di situ. Yang lebih mungkin, menurut kelompok ini, pusat Kerajaan Demak ada di wilayah sekitar Semarang yaitu Alastuwo, Kecamatan Genuk. Pendapat ini didukung oleh temuan benda-benda arkeologi. Menurut Jaya Suprana, salah satu dari kedua pendapat itu mungkin keliru, tetapi bisa juga dua-duanya keliru (!). Demikian ulasan tentang Demak dalam kelirumologi ala Jaya Suprana.

Kedua pendapat di atas menarik diuji secara geologi sebab keduanya mau tak mau melibatkan sebuah proses geologi bernama sedimentasi. Mari kita lihat sedikit proses sedimentasi di wilayah yang terkenal ini. Terkenal ? Ya, wilayah ini dalam hal sedimentasi Kuarter terkenal. Ada pendapat bahwa dahulu kala Gunung Muria di sebelah utara Demak tidak menyatu dengan tanah Jawa, ia merupakan sebuah pulau volkanik yang kemudian akhirnya menyatu dengan daratan Jawa oleh proses sedimentasi antara Demak-Muria. Mari kita periksa pendapat ini berdasarkan literatur-literatur lama sejarah.

Runtuhnya Hindu-Jawa (cover dicopy dari somewhere)

Runtuhnya Hindu-Jawa (cover dicopy dari somewhere)

Sedikit hal tentang Kerajaan Demak, perlu dituliskan lagi untuk sekedar menyegarkan pikiran. Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa dan ada sesudah era Kerajaan Majapahit. Sebagian raja Demak adalah turunan raja-raja Majapahit, termasuk Raden Patah –sang pendiri Kerajaan Demak. Riwayat penaklukan Majapahit oleh Demak ada kisah tersendiri yang secara sangat detail diceritakan dalam buku Slamet Muljana (1968, 2005) “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara” – Bhratara – LKiS. Pada tahun 1515, Kerajaan Demak sudah berwilayah dari Demak sampai Cirebon. Pada tahun 1546, Kerajaan Demak sudah semakin luas wilayahnya termasuk Jambi, Palembang, Bangka, Banten, Sunda Kalapa, dan Panarukan di Jawa Timur. Tahun 1588 Demak lenyap dan penerusnya berganti ke Pajang yang merupakan pendahulu kerajaan/kesultanan di Yogyakarta dan Surakarta sekarang. Runtuhnya Kerajaan Demak tak berbeda dengan penaklukannya atas Majapahit. Peristiwa gugurnya tokoh2 penting Demak saat menyerang Blambangan yang eks Majapahit, dan rongrongan dari dalam Demak sendiri membuat kerajaan makin lemah dan akhirnya runtuh dengan sendirinya. Sebuah pelajaran dari sejarah –cerai-berai dari dalam akan membahayakan kesatuan dan persatuan.

Kembali ke pencarian pusat Kerajaan Demak, buku Mohammad Ali (1963), “Peranan Bangsa Indonesia dalam Sejarah Asia Tenggara” –Bhratara, menarik untuk diacu. Dalam menguraikan terjadinya Kerajaan Demak, Moh. Ali menulis bahwa pada suatu peristiwa Raden Patah diperintahkan oleh gurunya, Sunan Ampel dari Surabaya, agar merantau ke barat dan bermukim di sebuah tempat yang terlindung oleh tanaman gelagah wangi. Tanaman gelagah yang rimbun tentu hanya subur di daerah rawa-rawa. Dalam perantauannya itu, Raden Patah sampailah ke daerah rawa di tepi selatan Pulau Muryo (Muria), yaitu suatu kawasan rawa-rawa besar yang menutup laut atau lebih tepat sebuah selat yang memisahkan Pulau Muryo dengan daratan Jawa Tengah. Di situlah ditemukan gelagah wangi dan rawa; kemudian tempat tersebut dinamai Raden Patah sebagai “Demak”.

Menurut Slamet Muljana (1983), “Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit” – Inti Idayu, hutan di Gelagah Wangi itu dibuka dan dijadikan tempat hunian baru rnama “Bintara”. Dari nama wilayah baru itulah Raden Patah terkenal sebagai Pangeran Bintara. Slamet Muljana (1968, 2005) juga menulis bahwa Raden Patah (nama Tionghoanya Jin Bun – Raden Patah adalah anak raja Majapahit Prabu Brawijaya dan salah seorang istrinya yang disebut Putri Cina) memilih tinggal di daerah kosong dan berawa di sebelah timur Semarang, di kaki Gunung Muria. Daerah itu sangat subur dan strategis untuk menguasai pelayaran di pantai utara. Jin Bun berkedudukan di Demak. Di Demak, Jin Bun menjadi ulama sesuai pesan gurunya, Sunan Ampel. Ia mengumpulkan para pengikutnya baik dari masyarakat Jawa maupun Cina. Saat sebelum memberontak kepada Majapahit, Jin Bun atau Raden Patah adalah bupati yang ditempatkan di Demak atau Bintara.

Bahwa Demak dulu berlokasi di tepi laut, tetapi sekarang jaraknya dari laut sampai 30 km, dapat diinterpretasikan dari peta genangan air yang diterbitkan Pemda Semarang (Daldjoeni, 1992, “Geografi Kesejarahan II” –Alumni). Peta genangan banjir dari Semarang sampai Juwana ini dengan jelas menggambarkan sisa-sisa rawa di sekitar Demak sebab sampai sekarang wilayah ini selalu menjadi area genangan bila terjadi banjir besar dari sungai-sungai di sekitarnya. Dari peta itu dapat kita perkirakan bahwa lokasi Pulau Muryo ada di sebelah utara Jawa Tengah pada abad ke-15 sampai 16. Demak sebagai kota terletak di tepi sungai Tuntang yang airnya berasal dari Rawa Pening di dekat Ambarawa.

Di sebelah baratlaut kawasan ini nampak bukit Prawoto, sebuah tonjolan darat semacam semenanjung yang batuannya terdiri atas napal di Pegunungan Kendeng bagian tengah. Dalam sejarah Demak terdapat tokoh bernama Sunan Prawoto (Prawata) yaitu anak Pangeran Trenggono. Nama sebenarnya adalah Mukmin, tetapi kemudian ia dijuluki Sunan Prawoto karena setiap musim penghujan, demi menghindari genangan di sekitar Demak, ia mengungsi ke pesanggrahan yang dibangun di bukit Prawoto. Sisa-sisa pesanggrahan tersebut masih menunjukkan pernah adanya gapura dan sitinggil (siti hinggil) serta kolam pemandian (De Graaf, 1954, “De Regering van Panembahan Senapati Ingalaga” – Martinus Nijhoff).

De Graaf dan Th. Pigeaud (1974), “De Eerste Moslimse Voorstendommen op Java” –Martinus Nijhoff) punya keterangan yang baik tentang lokasi Demak. Letak Demak cukup menguntungkan bagi kegiatan perdagangan maupun pertanian. Selat yang memisahkan Jawa Tengah dan Pulau Muryo pada masa itu cukup lebar dan dapat dilayari dengan leluasa, sehingga dari Semarang melalui Demak perahu dapat berlayar sampai Rembang. Baru pada abad ke-17 selat tadi tidak dapat dilayari sepanjang tahun.

Dalam abad ke-17 khususnya pada musim penghujan perahu-perahu kecil dapat berlayar dari Jepara menuju Pati yang terletak di tepi sungai Juwana. Pada tahun 1657, Tumenggung Pati mengumumkan bahwa ia bermaksud memerintahkan menggali terusan yang menghubungkan Demak dengan Pati sehingga dengan demikian Juwana dapat dijadikan pusat perniagaan.

Pada abad ke-16 Demak diduga menjadi pusat penyimpanan beras hasil pertanian dari daerah-daerah sepanjang Selat Muryo. Adapun Juwana pada sekitar tahun 1500 pernah pula berfungsi seperti Demak. Sehubungan itu, menurut laporan seorang pengelana asing terkenal di Indonesia saat itu –Tom Pires, pada tahun 1513 Juwana dihancurkan oleh seorang panglima perang Majapahit dan Demak menjadi satu-satunya yang berperan untuk fungsi itu. Perhubungan Demak dengan daerah pedalaman Jawa Tengah adalah melalui Kali Serang yang muaranya terletak di antara Demak dan Jepara. Sampai hampir akhir abad ke-18 Kali Serang dapat dilayari dengan kapal-kapal sampai pedalaman. Mata air Kali Serang terletak di Gunung Merbabu dan di Pegunungan Kendeng Tengah. Di sebelah selatan pegunungan tersebut terdapat bentangalam Pengging (di antara Boyolali dan Pajang/Kartasura).

Ketika dalam abad ke-17 sedimen di Selat Muryo sudah semakin banyak dan akhirnya mendangkalkannya sehingga tak dapat lagi dilayari, pelabuhan Demak mati dan peranan pelabuhan diambil alih oleh Jepara yang letaknya di sisi barat Pulau Muryo. Pelabuhannya cukup baik dan aman dari gelombang besar karena terlindung oleh tiga pulau yang terletak di depan pelabuhan. Kapal-kapal dagang yang berlayar dari Maluku ke Malaka atau sebaliknya selalu berlabuh di Jepara.

Demikian ulasan singkat berdasarkan literatur2 lama sejarah tentang lokasi Kerajaan Demak yang lebih mungkin memang berada di selatan kota Demak sekarang, di wilayah yang dulunya rawa-rawa dan menhadap sebuah selat (Selat Muryo) dan Pulau Muryo (Muria). Justru dengan berlokasi di wilayah seperti itu, Demak pada zamannya sempat menguasai alur pelayaran di Jawa sebelum sedimentasi mengubur keberadaan Selat Muria.

Jalan raya pantura yang menghubungkan Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwana sekarang sesungguhnya tepat berada di atas Selat Muria yang dulu ramai dilayari kapal-kapal dagang yang melintas di antara Juwana dan Demak pada abad ke-15 dan ke-16. Bila Kali Serang, Kali Tuntang, dan Kali Juwana meluap, ke jalan-jalan inilah genangannya –tak mengherankan sebab dulunya juga memang ke selat inilah air mengalir.

Bila kapan-kapan kita menggunakan mobil melintasi jalan raya pantura antara Demak-Pati-Juwana-Rembang, ingatlah bahwa sekitar 500 tahun yang lalu jalan raya itu adalah sebuah selat yang ramai oleh kapal-kapal niaga Kerajaan Demak dan tetangganya.

Kembali ke kelirumologi lokasi Kerajaan Demak, yang mungkin keliru adalah pendapat bahwa pusat Kerajaan Demak berada di Semarang.

Salam,

Awang