Purbalingga Bangun Museum Batu Mulia dan Artefak Neolitikum


Copyright :

http://www.jawatengah.go.id

Tim geologi dan arkelogi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Tim inilah yang dibantu para mahasiswa Fakultas Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, pada beberapa waktu lalu menemukan batu mulia Le Sang Du Christ dan temuan potongan batu hasil buatan manusia zaman prasejarah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Klawing dan di Desa Dagan Bobotsari. Le Sang Du Christ yang konon merupakan batu mulia dengan kualitas terbaik oleh warga setempat sering disebutnya sebagai batu Nogo Sui.

Pemkab Purbalingga berencana akan segera membangun museum batu mulia dan artefak Neolitikum. Bangunan museum akan dianggarkan pada Anggaran Pembangunan Belanja Daerah (APBD) Perubahan Tahun 2009 ini. Demikian diungkapkan Bupati Purbalingga Drs H Triyono Budi Sasongko, M.Si ketika menerima rombongan tim geologi dan arkeologi, Sabtu (11/7).

Lebih kanjut dikatakan, bangunan akan kami tempatkan bersebelahan dengan bangunan museum uang Purbalingga di kompleks taman reptil dan insekta, tepatnya di kawasan taman buah Kutasari. Museum batuan ini juga akan menyatu dengan museum wayang. Bangunan permanen calon museum nantinya berukuran 12 x 20 meter dengan biaya Rp 400 juta. Bangunan museum ini nantinya akan menampung koleksi bebatuan bersejarah yang terdapat di Purbalingga dan koleksi wayang di seluruh Indonesia. ”Museum ini sekaligus sebagai upaya pelestarian budaya terutama wayang, dan sekaligus menyimpan benda purba berupa batuan yang ternyata banyak terdapat di Purbalingga,” kata Bupati Triyono sembari meminta agar Tim KRCB membantu mendata koleksi temuan batu mulia dan arkeologi lainnya.

Sementara itu Tim KRCB yang diketuai ahli geologi dan dosen luar biasa Fakultas Geologi ITB dan Fakultas Geologi Unsoed Purwokerto Ir Sujatmiko, Dipl Ing disela-sela eskursi (penelitian geologi lapangan) lanjutan di bagian hulu Sungai Klawing tepatnya di Desa Dagang, Kecamatan Bobotsari mengemukakan, berdasar hasil penelitian, di sejumlah wilayah Purbalingga terdapat sedikitnya 50-an situs bersejarah. Selain itu juga ditemukan potongan-potongan batu hasil buatan manusia zaman prasejarah yang berserakan di sekitar air terjun di Desa Dagan dan disekitar persawahan milik warga di desa tersebut.

”Potongan batu yang kami temukan berupa beberapa potong limbah gelang batu berbahan dasar jasper hijau yang berbentuk cakram. Potongan batu ini diperkirakan berasal dari zaman neolitikum atau zaman batu baru,” kata Sujatmiko.

Sujatmiko mengungkapkan, sejak tahun 1983, kawasan sekitar Bobotsari sudah dikenal di kalangan masyarakat batu mulia maupun arkeolog sebagai salah satu situs budaya manusia zaman neolitikum. Hal itu menyusul dilepasnya sejumlah hasil penelitian para arkeolog Indonesia tentang temuan benda-benda prasejarah di Purbalingga tahun 1980-an, salah satunya hasil peneletian arkeolog Harry Truman Simanjuntak .

’’Kedatangan kami kali ini, untuk mengetahui lebih jauh hasil temuan Truman. Kami juga akan memetakan kawasan mana saja di Purbalingga ini yang memiliki persebaran batu-batu peninggalan budaya manusia neolitikum,’’ kata Sujatmiko. Dia mencontohkan, temuan limbah gelang batu merupakan temuan yang sangat menarik. Hal itu menandakan kegiatan manusia masa neolitikum di Purbalingga mulai melirik ke benda-benda estetik, bukan lagi berdasarkan fungsinya. ’’Dari sumber-sumber arkeologi, gelang batu ini dibuat manusia prasejarah dengan menggunakan bambu dan pasir,’’ imbuhnya.

Sujatmiko menambahkan, pihaknya mendapatkan dukungan yang luar biasa dari Pemkab Purbalingga untuk mengangkat temuan batuan bersejarah di Purbalingga sebagai upaya untuk mengangkat potensi pariwisata khususnya wisata geologi (geo tourism). Oleh karenanya, pihaknya akan segera menggelar lokakarya bertema Pemberdayaan Potensi Arkeologi dan Geologi Kabupaten Purbalingga Untuk Mendukung Pembangunan Daerah, pada bulan Agustus mendatang.

”Kami juga akan segera menyusun sebuah buku tentang temuan potensi bebatuan di Purbalingga khususnya batu Nogo Sui (Le Sang Du Christ),” kata Sujatmiko sembari menyebut judul buku yang tengah disusun adalah ’Melalui Batu Nogo Sui Klawing, Menelusuri Jejak Peradaban di Bumi Purbalingga’. (Pra ed TG)

Satu Tanggapan

  1. Apakah batu jenis ini ( Le Sang Du Christ ) ada ukuran besar ?
    kalau saya berminat bagaimana mendapatkannya ? Apakah ada warna lain ? Selain jenis batu itu disungai Gintung ada jenis batu mulia apalagi ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: