Syiar Ilmu Bumi dalam Islam


Assalamualaikum.Wr.Wb.
Allah SWT berfirman di dalam kitabnya yang maha mulia : “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu,keduanya dahulu adalah satu kesatuan yang terpadu. Kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air kami jadikan segala sesuatu yang hidup,maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” ( Al Anbiya 3 )

Muhammad Kamil Abd As Shamad dalam bukunya  “Al I’jaz ‘Ilmi fil Qur’an” halaman 77-78 mengatakan bahwa: “Ilmu modern pada abad terakhir telah menemukan bahwa, bumi dan langit-langit merupakan satu kesatuan, yang pada akhirnya terbelah. Kemudian masing-masing dari unsur keduanya berasal dari awan-awan ( asap ), yang semakin lama semakin menebal dan membentuk suatu benda (tak ubahnya penciptaan manusia yang berasal hanya dari setetes air mani, kemudian menjadi benda yang keras dan bergerak).”

Kedua unsur ini sudah dibuktikan bahwa zat-zat yang ada di bumi dan matahari satu. Yaitu berupa gas yang terapung. Hal ini dilukiskan dan dibadaikan oleh Allah SWT dalam firmannya “Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih merupakan asap, lalu Allah berkata kepadanya dan kepada bumi, datanglah kamu keduanya menurut perintahku, dengan suka hati, atau terpaksa, keduanya menjawab, kami datang dengan suka hati.” ( Q.S Al Fushilat 11 ).

BENTUK BUMI :
Sesuai dengan firman Allah SWT dalam kitabnya yang mulia: “Dan bumi setelah itu dijadikannya terhampar (seperti bulat telur ).” (Q.S An Naazi’aat 30).

Kamus bahasa Arab memberikan arti kata “Dahaha” yaitu menjadikannya seperti “Ad Dahiyah, yakni Bulat telur”. Dan yang menguatkan lagi firman Allah bahwa bentuk bumi ini bulat adalah firmannya sebagai berikut: “Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari, dan memelihara kedua tempat terbenamnya.” (Q.S Ar Rahman 17 )

Andaikan saja, bentuk bumi ini terbentang luas dan terhampar merata, tentu tempat terbit dan terbenamnya matahari satu. Dan cahaya matahari pasti menyinari seluruh isi jagat alam raya ini sekaligus, berarti tidak ada malam, karena diterangi oleh matahari, tanpa ada dinding pembatasnya.

Salah satu contoh saja, cobalah kita pinjam dulu bola kaki dunia itu, atau bola apa saja, kemudian kita kasih senter,maka bila kita mensenternya (memberikan cahaya), pada bagian atas, maka bagian bawahnya gelap. Atau kita sinari bagian Barat,maka bagian Timurnya akan gelap, begitu juga sebaliknya. Karena bagian bawah, atau Timur terhalang mendapat sinaran tersebut. Ini pertanda bahwa bumi itu bulat, dan tidak datar begitu saja. Dan ini juga sesuai dengan firman Allah SWT “Dan dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” ( Q.S Al Anbiyaa,) “Dia Allah-lah yang menutupkan malam atas siang dan siang atas malam,dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang telah ditentukan”. “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malam mendahului siang.” ( Q.S Yasin 40 )

ISYARAT-ISYARAT ALQUR’AN TENTANG GEOLOGI
Zaglul Raghib Muhammad Al Najjar, (mukjizat Al Qur’an)  dalam keterangannya mengenai ilmu geologi ini menyatakan: “Dalam berbagai ayat, Al Qur’an banyak memberikan indikasi tentang jagad raya dengan segala bagian-bagiannya (langit, bumi, segala benda mati dan hidup yang ada, serta berbagai fenomena jagat raya lainnya yang muldimensional).”

Isyarat-isyarat itu menunjukkan bukti (istidlal) atas kekuasaan Allah yang tidak terbatas, ilmu dan hikmah yang maha sempurna dalam menciptakan jagat raya ini. Ini semua sebagai hujjah (argumentasi) terhadap orang-orang kafir, musyrik dan kaum skeptis, dan sekaligus mengukuhkan hakikat uluhiyah Allah, Rabb alam semesta. Jika kaum Muslimin memanfaatkan hal keilmuan dari Allah ini, niscaya mereka akan menjadi pelopor dalam setiap penemuan ilmiyah. Sekurang-kurangnya terdapat 49 ayat kauniyah di dalam Al Qur’an yang membicarakan bumi.

Antara lain yang membicarakan tentang lapis luar bumi di mana kita hidup di atasnya. Ayat-ayat yang mengandung sejumlah fakta ilmiah geologi dapat diklasifikasikan dalam kompilasi-kompilasi berikut:
Ayat yang menyuruh manusia supaya berjalan di muka bumi dan meneliti cara awal penciptaan, yang merupakan suatu metodologi ilmiah dalam kajian geologi.
Ayat-ayat yang menunjukkan gerak dan asal usul bumi. Antara lain penyifatan bola bumi dan peredarannya. Ayat-ayat yang menegaskan tentang posisi planet-planet hakikat ekspansi jagat raya permulaan alam yang dimulai dengan satu partikel (satu padu), kemudian partikel pertama yang meledak, (tahap pemisahan ), permulaan langit dan tahap penciptaannya, yang pertama dalam kabut tipis (tahap nebula) tersebarnya benda antara langit dan bumi (benda antara planet-planet), dan keselarasan seluruh yang ada di langit dan di bumi.
Ayat yang menetapkan bahwa setiap besi yang ada di planet bumi ini, telah diturunkan dari langit.
Ayat yang menetapkan bahwa bumi mempunyai tumbuh-tumbuhan, dan ini merupakan suatu sifat fundamental planet bumi yang kita huni ini.
Ayat-ayat Al Qur’an yang berbicara tentang berbagai fenomena laut yang sangat urgen. Seperti gelapnya lautan dan samudra (peranan gelombang yang bersifat intern dan ekstern dalam pembentukannya). Pertemuan air laut air tawar dengan air asin.
Ayat-ayat yang berbicara tentang gunung. Antara lain ada yang menyifatinya sebagai “Pasak, tiang bumi”.
Ayat yang mengisyaratkan tentang proses pertumbuhan kulit bumi yang terdiri dari air dan udara. Itu terjadi dengan dikeluarkannya bagian-bagian kedua aspek tersebut dari perut bumi atau ayat-ayat yang menyifati tabi’at retroactive protective, bagi kulit bumi yang bersifat gas.
Ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang lembutnya kulit bumi yang membatu, rata gelombang permukaannya, terpecah lembah dan anak sungainya serta semakin berkurangnya ujung-ujung bumi.
Ayat yang menjelaskan tentang mengendapnya air hujan di dalam bumi, dan mengisyaratkan adanya semacam selokan ( kolam ) air di sekitar bumi dan bebatuannya.
Dan lain-lainnya.

Fakta ilmiah ini, tak pernah dikenal oleh manusia sebelum abad ini, justru banyak fakta-fakta ilmiah itu yang belum dicapai oleh manusia kecuali pada beberapa dasawarsa terakhir ini, setelah adanya upaya-upaya brilian dan analisis mendalam tentang sejumlah besar observasi dan eksperimen-eksperimen ilmiah dalam berbagai aspek yang ditangkap dari fenomena jagat raya.

Sesungguhnya keterdahuluan Al Qur’an dalam mengisyaratkan fakta-fakta ilmiah tersebut dengan ungkapan yang sangat teliti, baik dari segi llmiahnya, ataupun bahasanya, serta cakupan dan totalitasnya. Inilah ia mukjizat ilmiah Al Qur’anulkarim.

Al Qur’an tetap terpelihara kata perkata, kalimat perkalimat, karena Allah akan memeliharanya “Inna nahnu nazzalnaa Ad Dzikra,wainnaa lahuu lahaafidzuun” (Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al Qur’an itu, maka kami juga yang akan memeliharanya.) “dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka ia tetap pada tempatnya,padahal ia berjalan sebagai jalannya awan, begitulah perbuatan Allah yang membuat kokoh tiap-tiap sesuatu.” (Q.S Al Naml : 88).

Guna membahas pentingnya pemikiran ilmu geologi, atau persepsi dari Al Qur’an dan Hadist, adalah penting untuk memberikan informasi latar belakang yang menggambarkan di mana geologi sekarang dan bagaimana sampai ke kondisi sekarang.

Ilmu geologi sebagai ilmu pengetahuan dimulai kurang dari 200 tahun yang lalu. Meskipun adanya berbagai persepsi geologis yang bisa ditelusuri kembali ke Aristoteles lebih dari 2000 tahun yang lalu.

Pengumpulan dan Analisis dari data Geologis. Dalam dua abad setelah penelitian para pakar geologis dapat ditemukan bahwa dari hasil tanaman, kerang, tulang yang tetap ditemukan dalam batuan di akui sebagai catatan masa lalu.

(Salah satu contoh kecil,ilmu di bidang ini akan dapat menduga berapa umur suatu pohon, dilihat dari daun dan batang, atau kayunya, kapan terjadi musim panas,dan kapan terjadi musim dingin, hanya dilihat dari serat-serat pohon tersebut, ini saya dengar sendiri dari paman saya yang kebetulan bergerak di bidang kehutanan dan pertanian ini ).

Cobalah kita lihat serat-serat dari suatu pohon. Ambil pohon yang umurnya lama, atau pendek, dan ukurannya tebal, atau tipis, akan terlihat jelas oleh kita serat-serat kayu tersebut.

Menjelang tahun 1800 diakui lebih lanjut bahwa catatan kehidupan yang ditemukan dalam batuan berbeda dengan sekarang yang ditemukan, dan semakin jauh dalam waktu (yakni lapisan bawah sekali dalam urutan lapisan batuan), semakin beda catatan fosil, yang berbeda di temukan dalam batuan.

Penelitian untuk menentukan urutan  ini dicapai dengan mengintegrasikan informasi dari urutan parsial batuan dari seluruh dunia. Penelitian ini banyak membuat sibuk para ilmuwan di abad ke-19 ,dan secara ilmiah sama menariknya, dengan program ruang angkasa di zaman sekarang.

Kemajuan teknologi peralatan canggih yang diperlukan untuk memperoleh umur batuan,terutama sangat berkembang sejak tahun 1940-an. Apa yang dikatakan hadist mengenai semua ini? beberapa ayat dari berbagai bagian Al Qur’an dan Hadist mempunyai implikasi yang menarik. Allah berfirman : “katakanlah wahai Muhammad berjalanlah di atas bumi dan lihatlah bagaimana Allah memulai penciptaannya.”

Pernyataan ini memerintahkan kita untuk melakukan hal-hal berikut:
Mengadakan perjalanan di muka bumi.
Melakukan observasi ( lihat-lihat ), selama perjalanan itu.
Menuliskan pengamatan ini,menganalisis dan memahaminya,serta melihat bagaimana mulai penciptaan.

Informasi dari Al Qur’an menunjukkan rincian baik mengenai struktur bumi maupun mengenai gerakan lempeng kontinen. Dalam satu ayat, Al Qur’an menyatakan “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap” ( Q.S 2: 22 )

Hal-hal berikut yang ditunjukkan oleh ayat ini:
lapisan atas bumi,atau kerak bumi,sama dengan suatu hamparan pelindung.
Lapisan atas bumi adalah relatif tipis terhadap bagian dalam, dan sekarang diketahui bahwa ketebalan relatif sama dengan kulit apel dibandingkan dengan keseluruhan apel.
Sama seperti hamparan yang melindungi kekerasan dan bahaya di bawahnya, demikian pula kerak bumi yang melindungi kehidupan dari panas di dalam bumi.

Ayat lain dalam Al Qur’an menyatakan : “dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi, supaya bumi ini tidak goncang bersama kamu, Dan dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk” ( Q.S 16 : 15 )

Ayat-ayat ini menunjukkan hal-hal berikut :
Benua di bumi terhampar dan diciptakan di zaman purba, sama seperti dihamparkan, atau ditarik.
Terdapat gerakan terus-menerus benua-benua.
Pembentukan gunung dikaitkan dengan gerakan ini.
Gunung distabilkan dengan turun ke lapisan astenosfer.
Bahan plastis ( lentur ) terdapat dibawah kerak bumi,karena ia menjadi tidak stabil, tanpa efek menurun (sinking effect).

jadi ayat-ayat ini memberikan indikasi yang jelas mengenai struktur bumi dan gerakan lempeng tektonik. Kerak bumi dan  karakteristik strukturalnya tidak dipelajari secara rinci sampai abad ke 19. Ahli-ahli geologi tidak mempunyai teori yang komfrehensip untuk menjelaskan proses ini, mengaitkannya dengan gerakan kontinen sampai paro terakhir abad kedua puluh.

Sekarang kita terangsang untuk merenungkan sebuah hadist dalam shahih Muslim yang menyatakan, sebagai salah satu datangnya Hari perhitungan sebagai berikut: “Hari perhitungan tidak akan datang sebelum daerah Arab kembali menjadi subur, hijau dengan sungai-sungai”.

Hadist ini mengacu pada iklim masa lalu, dan masa yang akan datang,dari bukti geologis bahwa daerah ini pernah hijau dan akan menjadi hijau lagi dalam waktu kurang dari satu abad. Mengenai hal ini, Mesir sudah jelas dulunya adalah tanah pertanian, terbukti dengan adanya kisah nabi Yusuf yang menjadi Menteri keuangan di dalam mengatur pertanian, kala orang-orang Palestina datang meminta bahan-bahan primer untuk dimakan.

Begitupun selama bertahun- tahun masa panen,dan masa paceklik (tempat penyimpanan itu masih ada sampai sekarang, adanya di Luxor, sementara Kincir nabi Yusuf, mungkin kincir pertama di dunia kali, hanya sayangnya negeri Kincir justru terkenal dari Negara Belanda (?). Kincir nabi Yusuf masih ada, dan memiliki bunyi khusus.

Dan bila dihubungkan dengan masa-masa saat ini, Mesir bukanlah seluruhnya tanah Padang pasir yang tandus lagi,tapi sudah banyak kehijauan di sebagian daerah, begitupun sungai-sungai Nil, yang di buat bendungan-bendungan baru,serta aliran-aliran baru di daerah perpasiran, sehingga jadilah Padang pasir tersebut menjadi tanah pertanian. Wallaua’lam masa yad.

Tak kalah juga,kalau tidak salah,dua tahun yang lampau di jazirah Arab, sudah ada gundukan es, salju. Ini pertanda, suatu saat kelak, Hadist Rasulullah benar-benar terbukti, bahwa jazirah Arab akan kembali menjadi subur kembali.

Lantas kenapa dulunya tanah Arab,subur,menjadi kering begitu? Ini pembahasan di bidang lain, yang menyangkut zaman Es. Di sana disebutkan bagaimana rotasi tersebut.

Wassalam

%d blogger menyukai ini: